Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa

Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa
Diarsipkan di bawah:  Dunia Islam — alqoshiduun @ 10:21 am

kehancuran.jpg

Sebuah
buku spektakuler tentang analisa kehancuran Amerika dan Eropa di akhir
zaman dari berbagai sudut pandang : empiris, historis, sosial, ekonomi,
dan nubuwah akhir zaman.

Di
saat Uni Soviet yang mengusung komunisme tumbang, Perang Dingin
berakhir, maka Amerika tampil sebagai negara super power yang
menentukan hitam putihnya dunia.

Di saat sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme diterima oleh lebih dari 90 % negara di dunia.

Di
saat 95 % negara anggota PBB mendukung Amerika dan sekutunya dalam
memerangi Islam dan kaum muslimin melalui sandi operasi ‘perang global
melawan terorisme’.

Di
saat Amerika dan sekutu-sekutunya melanggar aturan internasional, dan
melakukan invasi militer kepada dua negara yang paling miskin dan lemah
di dunia, Afghanistan dan Irak, tanpa ada satu negara pun yang mampu
mencegah dan menghukumnya.

Di
saat Amerika Serikat terus memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat,
Australia, Jepang, dan Korea Selatan untuk menuruti semua kehendaknya

Di
saat Amerika telah menjelma bagaikan bangsa Mesir pada zaman Fir’aun,
yang menginginkan bangsa-bangsa lain menghamba kepada mereka, mengikuti
agama mereka, menyembah thagut, dengan cara memeras, menakut-nakuti,
menyiksa, bahkan melenyapkan mereka.

Di
saat Amerika tampil mengangkangi segala negara dan lembaga di dunia,
tak terkecuali PBB, yang dengan leluasanya Amerika bisa berbuat
semaunya tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun yang bisa mencegah
dan menghukumnya.

Di
saat seluruh dunia menerima klaim Amerika sebagai pusat peradaban,
ekonomi, penegakan HAM, Demokrasi dan standar tunggal gaya hidup
manusia.

Di saat Amerika menjadi tolok ukur dalam seluruh makna keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia.

Bisakah
Anda mempercayai penjelasan orang yang menyatakan bahwa Amerika dan
sekutunya tengah berada di ambang keruntuhannya? Dapatkah Anda
membenarkan klaim yang menyatakan bahwa negeri itu tengah di ujung
jurang kebinasaannya? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para
tokoh politik, ekonomi, budaya dan cendekiawan Amerika dan Eropa
sendiri? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para ilmuwan dan
ulama muslim? Bahkan, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih?

Amerika
adalah sebuah negara adidaya yang ekonominya 100 % berbasis sistem
ribawiyah-spekulatif (Kapitalisme) dan merupakan penghela utama
peradaban Barat-modern. Banyak sekali orang yang tersihir oleh
kehebatan teknologi negeri itu, terpesona oleh kekayaannya yang luar
biasa, sehingga sama sekali tidak mengira bahwa sebenarnya negara
adidaya itu tengah memasuki hari-hari terakhirnya, insya Allah.
Buku ini mengungkapkan kenyataan sebenarnya yang tengah dihadapi negeri
adidaya itu. Seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran
total telah terpenuhi oleh negeri ini; ekonomi, politik, militer,
sosial, demografi, moralitas, termasuk nubuwat akhir zaman.

Dari
sisi ekonomi, negeri produsen dolar ini telah berubah dari lintah darat
menjadi korban lintah darat terbesar di dunia sejak pertengahan tahun
1986 – dimulai pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagen. Perubahan
status ini bermula dari pengeluaran anggaran yang luar biasa besar bagi
pembiayaan Proyek Perang Bintang (Strategic Defense Initiative)
dan Kampanye Penghancuran Uni Soviet. Uni Soviet memang akhirnya
hancur, akan tetapi dengan ongkos yang membuat Amerika sendiri menjadi
limbung dan menuju status sekarat! Utang total pemerintah Amerika
bertambah praktis secara eksponensial, dan per April 2007, utang
tersebut telah melewati US$ 8,9 trilyun (ikuti terus
statusnya pada situs “US National Debt Clock”) dan terus bertambah
dengan besarnya bunga yang harus dibayar setiap tahun melewati angka
US$ 300 milyar yang nilainya semakin bertambah pula seiring dengan
semakin meningkatnya utang pokok dan suku bunga pinjaman.

Dengan
akumulasi utang bangsa Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat,
pemerintah daerah, sektor swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih
kurang US$ 48 trilyun
[1] (dengan
kurs 1 US$ = Rp. 9000,- nilainya akan setara dengan kira-kira Rp.
432.000 trilyun, baca: empat ratus tiga puluh dua ribu trilyun
rupiah!), secara teoritis, jika Bank Sentral Jepang dan atau Cina dan
atau sejumlah investor lainnya (cukup salah satu saja yang beraksi,
lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik seluruh investasinya
keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter yang luar biasa
hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, di
Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya, yaitu
bursa saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya
akan menimbulkan gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang
menjalar ke seluruh penjuru dunia!

Banyak
analisa para pakar ekonomi yang telah meramalkan kehancuran Amerika
dari sudut pandang ini. Pada 23 Januari 2005, Jas Jain, salah seorang
analis ekonomi terkemuka telah menulis, “Depresi yang lebih Besar (Greater Depression) adalah tak terhindarkan. Semakin
tinggi kita mendaki tangga utang, semakin dalam ekonomi Amerika akan
jatuh selama Depresi yang lebih Besar yang akan datang. 

Pada
Maret 2005, Stephen Roach, seorang kepala ahli ekonomi pada lembaga
keuangan Morgan Stanley di Boston mengatakan, bahwa ia percaya
peluangnya adalah 90% (yang menunjukkan sudah sangat dekat kepada
kepastian!) bahwa utang yang gila-gilaan ini pada akhirnya akan membawa
pada kehancuran ekonomi!

Pada
24 September 2005, Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika,
mengungkapkan kepada sejawatnya Thierry Breton, Menteri Keuangan
Perancis, bahwa Amerika Serikat telah kehilangan kendali atas
defisit anggarannya. Selanjutnya Breton berkata, “Situasi yang
menciptakan tekanan saat ini pada pasar uang adalah jelas defisit
Amerika.” Ia juga mengungkapkan, “Nampak bagi saya bahwa sejawat saya
John Snow (Menteri Keuangan Amerika, penj.) sepenuhnya sadar akan hal ini, ia ingin mengatasi masalah ini, tetapi nampaknya ia tidak mempunyai ruang yang cukup untuk bermanuver.”
[2]

Dari
sisi politik dan militer, kehancuran Amerika juga tinggal menunggu
waktu. Perang yang dikobarkan oleh Amerika di negeri-negeri muslim
telah mendapat kecaman internasional dan kerugian yang cukup besar.
Hingga awal 2007, perang Irak dan Afganistan telah merenggut nyawa
lebih dari 4000 orang tentara Amerika, dan lebih dari 50.000 tentara
mengalami cedera. Semula Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon,
berusaha mengecilkan jumlah prajurit yang cedera menjadi 24.000 orang.
Akan tetapi Dr. Linda Bilmes telah mengejutkan publik Amerika dengan
membocorkan angka yang sebenarnya, yaitu berkisar 50.000 prajurit yang
membuat Pentagon kebakaran jenggot. Angka ini tidak dapat disanggah
oleh Pentagon karena dikutip oleh Dr. Bilmes dari Departemen Urusan
Veteran Amerika yang terbebas dari pengaruh Pentagon. Sejauh ini lebih
dari 200.000 veteran telah dilayani di VA centers
(Pusat-pusat Urusan Veteran), dan terdapat antrian klaim pelayanan
medis dari 400.000 veteran. Jumlah klaim diperkirakan akan mencapai
874.000 pada 2007, dan 930.000 pada 2008.39 Dari
total prajurit yang cedera, sekitar 50% mengalami cacat permanen yang
membuatnya tidak dapat bertugas kembali sehingga setara dengan
kematian. Celakanya, tentara yang cacat ini malah membebani pemerintah
Amerika dengan biaya perawatan seumur hidup yang jauh lebih besar dari
pada kompensasi bagi keluarga prajurit yang tewas. Sebagai contoh,
keluarga dari seorang prajurit yang tewas akan mendapatkan bantuan
sebesar US$ 500.000, sedangkan seorang prajurit yang menderita cedera
permanen di otaknya akan memerlukan biaya perawatan sekitar US$ 4 juta..

Faktor
penting lainnya yang juga menambah/mempercepat kemungkinan kehancuran
Amerika adalah datangnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti
angin topan yang menghantam kota New Orleans yang terletak di wilayah
Teluk Meksiko pada akhir Agustus 2005. Bencana tersebut telah membuat
Kongres Amerika segera meluluskan permintaan bantuan sebesar US$ 10
milyar sebagai uang muka, sementara sebuah perkiraan telah menyebutkan
bahwa dibutuhkan dana sebesar US$ 200 milyar guna merestorasi semua
kerusakan, suatu nilai yang setara dengan perang selama empat tahun di
Irak dan Afganistan.

Belum
genap sebulan setelah bencana alam akibat angin topan yang demikian
merusak tersebut, datang lagi angin topan kedua yang menghantam wilayah
yang sama, yang menimbulkan kerusakan dan banjir secara meluas. Belum
genap sebulan setelah topan kedua, datang lagi topan ketiga. Barangkali
saja sudah menunggu angin-angin topan lainnya yang akan terus
menghantam daratan Amerika.

Rentetan
bencana tersebut telah menghancurkan sebagian infrastuktur energi
Amerika; 108 anjungan pengeboran minyak rusak dan tidak mungkin
dibangun kembali, demikian juga kerusakan pada sarana penyulingan
minyak yang menurunkan kapasitas operasinya menjadi 70%. Bencana
tersebut juga telah mengakibatkan 363.000 orang menjadi penganggur, dan
menimbulkan gelombang kebangkrutan yang masif.
[3]

Jika
pandangan suram tentang masa depan Amerika di atas semata-mata dari
sisi ekonomi, maka pandangan suram dari sisi sosial budayanya tercermin
dari kutipan berikut ini,

“Gambaran
suram masyarakat Amerika dilukiskan oleh Alistair Cooke, penyiar
veteran kelahiran Inggris, yang tinggal di AS selama bertahun-tahun.
Masalah Amerika baginya semata-mata merupakan pembusukan moral:
‘Tingkat kejahatan di kota secara teratur melampaui semuanya. selain
tahun sebelumnya yang paling buruk, dan kejahatan di jalanan secara
acak di waktu malam menandingi peristiwa menonjol dalam buku harian
abad kedelapan belas. Obat terlarang adalah hama yang menyerang semua
kelas dari segala usia. Kita baru saja tersadar untuk mendapatkan bahwa
sudah lama sekali, mungkin beberapa puluh tahun, pendidikan umum di
Amerika telah menetapkan standar yang mudah dan membingungkan,
sehingga, paling tidak dalam minoritas besar, mungkin mayoritas,
tamatan sekolah menengah, kalau dibandingkan dengan sesamanya dari
Eropa dan Asia, hanya setengah melek huruf.’

 

 

Alistair Cooke memerhatikan gejala
lain dari keruntuhan budaya: penyalahgunaan kebebasan, kegagalan
pengadilan menetapkan dan mengekang perbuatan tidak senonoh,
kemerosotan tajam dalam sikap umum, dan lain-lain. Dia menyimpulkan
bahwa akan ada titik balik sejarah yang besar, suatu akibat dramatis seperti Perang Saudara Amerika kedua,
datangnya seorang diktator populis, atau kembalinya secara darurat ke
bentuk sosialisme nasional yang menguntungkan ciptaan Franklin
Roosevelt dalam New Deal pertama (kebijakan Presiden Roosevelt untuk mengatasi Depresi Besar pada 1930-an, penj.)”

Itu
adalah komentar dari seorang yang hidup pada dekade 1990-an di Amerika.
Sekarang tentu keadaannya sudah jauh lebih buruk lagi. Maka lengkap
sudah semua syarat kehancuran Amerika: kemerosotan secara cepat dalam
bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan memerhatikan segenap tanda-tandanya, puncak musibah (baca: azab) yang mirip dengan Depresi Besar 1930 insya Allah akan terjadi lagi. Sebuah makalah dengan judul TOO

Jika
segenap penyebab di atas belum memadai untuk membawa Amerika kepada
kehancurannya, maka skenario berikut dapat menjadi skenario
pamungkasnya. Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat dari kalangan
akademisi maupun lembaga penelitian lainnya, baik mewakili institusi
maupun perorangan, kehancuran ekonomi Amerika yang dipicu oleh
kehancuran pasar saham dapat terjadi akibat adanya perubahan pada
struktur demografi masyarakat Amerika dikaitkan dengan sistem pensiun
para pekerja. Bahkan tokoh “resmi” semacam Dr. Alan Greespan.
[4]
yang menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, telah menyatakan
keprihatinannya yang mendalam akan persoalan ini dalam pidatonya pada 2
Desember 2005 mengenai kebijakan anggaran Amerika.

Data
demografi Amerika menunjukkan, bahwa lebih dari 76 juta orang Amerika
lahir antara 1946 dan 1964, yang oleh para ahli sosiologi disebut
sebagai generasi “baby boomers” (bayi-bayi yang lahir pada era ledakan
kelahiran pasca PD II). Para “baby boomers” itu kini berusia antara 43
dan 61 tahun. Mereka inilah yang membanjiri pasar kerja pada era
1970-an. Kemudian sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, mereka ini pula
yang banyak menanamkan investasinya di bursa saham.

Dalam
beberapa tahun mendatang, generasi “baby boomers” ini akan mulai
memasuki masa pensiun, sehingga mereka akan mulai mencairkan dana-dana
pensiun mereka, yang berarti menutup investasi mereka di reksa dana,
dan menyimpan dalam bentuk tabungan di bank. Bahayanya terletak pada
kenyataan bahwa generasi “baby boomers” ini adalah kelompok populasi
yang paling besar dan paling kaya di Amerika, sementara generasi
berikutnya, yang berpotensi menggantikan generasi “baby boomers”
sebagai investor di bursa saham, mempunyai jumlah yang
lebih kecil dengan tingkat kekayaan yang lebih rendah. Lebih
memperburuk keadaan adalah adanya “cacat” pada peraturan sistem dana
pensiun Employment Retirement Income Security Act - ERISA,
di mana setiap pensiunan yang telah menginjak usia 70 tahun
“diwajibkan” mulai menarik dananya dari pasar saham, dengan cara
menjual sahamnya setiap bulan.

Maka
secara teoritis, mulai 2008 orang akan menyaksikan kecenderungan
terjadinya lebih banyak transaksi menjual daripada membeli saham dan
semakin bertambah nyata pada tahun-tahun berikutnya. Selang beberapa
waktu kemudian orang akan memerhatikan bahwa indeks harga
saham tidak akan bisa naik lebih jauh lagi, bahkan cenderung terus
tertekan, akibat kecenderungan menjual saham lebih banyak daripada
membeli. Lalu begitu tersadar, orang-orang akan berduyun-duyun menjual
sahamnya.

Persoalannya,
sebagaimana juga di negara-negara lain, bagian terbesar dari masyarakat
Amerika adalah warga yang dididik untuk menjadi pekerja, bukan
pengusaha. Para pekerja itu tetap saja merupakan orang-orang yang awam
dalam bidang investasi di bursa saham. Sebagaimana orang awam lainnya,
tindakan mereka sering bersifat emosional, “ikut-ikutan.” Jadi, jika
suatu kali terjadi kondisi pasar saham yang “merosot,” mereka dapat
menjadi sangat panik, lalu berusaha menjual secepat mungkin saham-saham
mereka, dan yang lain pun akan segera mengikuti. Pasar saham bisa
benar-benar hancur karenanya. Jika itu terjadi, para analis
memperkirakan, ia akan menjadi “kehancuran pasar saham paling besar
dalam sejarah peradaban manusia.”

Kini
renungkanlah, jika para pengamat telah membuat prediksi yang sedemikian
kelabu, tentu para investor telah membuat ancang-ancang jauh-jauh hari
sebelumnya untuk segera menarik investasinya dari tanah Amerika.
Seakan-akan, wallahua’lam, Allah telah membuat “rencana” yang
akan memaksa para investor itu untuk menarik modalnya keluar dari
Amerika. Seakan-akan semua jalan telah terkunci bagi Amerika untuk
melepaskan dirinya dari bom waktu raksasa yang terbentuk tanpa mereka
sadari dan melekat tepat pada jantungnya.

Namun,
di balik semua kengerian yang hendak mencengkeram dunia, ada kabar
gembira yang menjadi konsekwensi kehancuran barat dan Amerika.
Kembalinya khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj nubuwah yang
akan memimpin dunia dengan keadilan dan kebenaran merupakan janji yang
pasti.

Maka,
buku ini juga mengupas secara padat dan tuntas generasi umat Islam yang
akan muncul sebagai pemimpin dunia, menggantikan peranan Amerika dan
Barat; siapa, kapan, karakteristik dan sifat keistimewaan,
langkah-langkah perjuangan dan hasil-hasil yang akan mereka capai.
Sebuah penjelasan yang lengkap, berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah,
disertai tinjauan sejarah dan fakta-fakta terbaru yang valid. Sungguh
sebuah kajian yang obyektif, ilmiah, menarik, dan sangat berani!

Leave a Reply